[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal Terkait Wolbachia

Welcome Sobat Togel Gajahtoto di Website Kami! : Bandar togel online terpercaya Indonesia Nomor #1 menang berapapun pasti di bayar !!

Liputan6.com, Jakarta – Seiring dengan pembahasan yang terus menerus tentang nyamuk ber-Wolbachia untuk pengendalian demam berdarah, kami menyebutkan lima hal, terutama terkait dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan penelitian di masa depan. [Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal Terkait Wolbachia

Pertama, kelompok penasihat yang ditunjuk oleh WHO (“Vector Control Advisory Group VCAG”) menyatakan pada tahun 2020 bahwa pengendalian nyamuk Aedes aegypti menggunakan bakteri Wolbachia jelas efektif bagi kesehatan masyarakat (“nilai kesehatan kita”). untuk mencegah penyakit demam berdarah termasuk yang lainnya didasarkan pada studi “uji coba terkontrol – RCT” di Daerah Istimewa Yogyakarta. Akses Layanan Diagnostik di Indonesia Terbatas, Begini Strategi Grup RS Ini Maksimalkan Layanan Kesehatan

Kedua, ingatlah bahwa “Vector Control Advisory Group VCAG” adalah kelompok ahli yang dibentuk oleh WHO yang berperan memberikan nasihat kepada WHO. Oleh karena itu, VCAG bukanlah penentu langsung kebijakan WHO. Tugasnya adalah melakukan penelitian mendalam lalu memberikan ide dan mendukung WHO dalam mengembangkan pekerjaannya.

Ketiga, pada tahun 2020, Tim Penasihat VCAG merekomendasikan agar WHO memulai (“menginisiasi”) proses pengembangan pedoman untuk mengembangkan rekomendasi penggunaannya dalam pengendalian demam berdarah. Jadi tidak disebutkan penggunaan langsungnya saat ini. Hal ini juga tercermin pada halaman WHO tentang wabah demam berdarah terakhir pada tahun 2023, dimana jalur Wolbachia tidak disebutkan secara jelas dalam program pencegahan WHO saat ini.

Keempat, saya mengatakan tiga hal untuk masa depan. Pertama, perlu dibangun hubungan sosial yang setinggi-tingginya bagi masyarakat agar penolakan dan penolakan masyarakat dapat dikendalikan secara efektif. Hal ini sangat penting dan sangat penting bagi keberhasilan program jika ingin dilakukan.

READ  403

Strategi kedua mulai saat ini adalah menyepakati pasokan, yaitu pembelian nyamuk ber-Wolbachia dalam jumlah besar. Tanpa perencanaan logistik, hasil yang baik tidak akan tercapai.

Saran saya yang ketiga antara lain perlu dilakukan penelitian jangka panjang seputar dampak sosial Wolbachia terhadap perubahan ekologi (dan epidemiologi) yang ada di alam, hal ini sejalan dengan tren global. Jurnal penelitian Lancet pada bulan Oktober 2023 tentang “pedang bermata dua” dari pendekatan ini terhadap nyamuk yang terinfeksi Wolbachia.

Kelima, sebagaimana disebutkan di atas, pendekatan Wolbachia telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan masyarakat dalam pengelolaan influenza. Namun, kita harus memperhatikan dua kata penting. Pertama, pendekatan nyamuk pembawa Wolbachia tidaklah “murah” untuk pengendalian demam berdarah. Hal ini juga diungkapkan oleh Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Singapura (“Badan Lingkungan Hidup Nasional”) beberapa waktu lalu.

Hal lain yang perlu diingat adalah pengendalian DBD dengan nyamuk ber-Wolbachia tidak dapat dilakukan sendiri, harus dilakukan bersama-sama dengan pengendalian vektor lainnya, yang dikombinasikan melalui IVM (“manajemen vektor”). Hal ini juga dilaporkan oleh WHO Amerika dalam laporannya pada Agustus 2023.

Prof. Tjandra Yoga Aditama [Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 5 Hal Terkait Wolbachia

Direktur Pendidikan Tinggi Universitas YARSI / Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *